Kamis, 30 September 2010

apapun kondisi, jika beriman itulah yang terbaik

Setiap kita memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Perjalanan hidup kita seperti yang sudah pernah kita alami masing-masing akan menemui berbagai hal. Tak selama perjalanan ini menyenangkan, juga tidak bersedih yang berkepanjangan. Susah dan senang dalam hidup adalah dua sisi yang senantiasa menghiasa kehidupan kita. Seperti pergantian malam dan siang. Jangan takut berada di malam hari. Sebentar lagi mentari kan hadir menyinari kehidupan kita.

Silih bergantinya kehidupan menjadi dinamika tersendiri buat kita. Saat susah sedang menghimpit kehidupan kita, bersabarlah! Yakinlah bahwa ini pasti kan berlalu dan berganti dengan kabar gembira yang menyenangkan hati. Roda kehidupan kan senantiasa berputar, tak selamanya kita berada di bawah, suatu saat nanti kita kan sampai puncak jua. Jangan mengeluh ketika menapaki jalan jelek yang penuh dengan onak dan duri, berhati-hatilah! Terus bergerak, susuri jalan kehidupan penuh kewaspadaan. Tak lama lagi akan ditemukan jalan yang bagus.

Perjalanan yang baguspun membuat kita harus waspada dan hati-hati. Bisa jadi pengguna jalan lain ada yang kurang memahami aturan dalam melakukan perjalanan yang akan menyebabkan kita kena musibah. Tak selamanya jalan ini lurus, akan ada tikung-tikungan yang sangat berbahaya bila kita tak mampu melakukan perjalanan dengan baik.

Sungguh sesuatu yang sangat menakjubkan sekali apa yang diungkapkan Rasulullah SAW, Dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Shuhaib, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukin, semua urusan baik baginya dan kebaikan ini tidak dimiliki oleh selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Imam Muslim)

Benar-benar mengagumkan sekali potret insan beriman, manusia yang memiliki pandangan keimanan, iman menjadi sudut pandangnya. Ia akan menilai dari sisi keimanan. segala sesuatunya akan menjadi baik baginya. Susah dan senang adalah kebaikan. Ia akan mampu bersabar dan bersyukur dengan kondisi yang dihadapinya. Ia tak kan berkeluh kesah, ia juga tak kan lupa untuk bersyukur. Apa yang dialaminya senantiasa akan melahirkan berjuta hikmah yang bisa diambil pelajaran.

Tempaan-tempaan alam yang kita alami masing-masing akan mematangkan kedewasaan kita dalam berfikir, kita akan menjadi mahasiswa terbaik dari Universitas Kehidupan. Berbagai ujian dari Universitas Kehidupan bukanlah untuk merendahkan kedudukan kita, akan tetapi ketika kita mampu menyelesaikannya dengan baik. Kedudukan kita akan naik, tingkat kita akan naik. Semua itu akan menjadi bekal dalam menapaki kehidupan selanjutnya, kita akan terlatih dalam mengerjakan berbagai soal. Kita akan mampu menyelesaikan berbagai problematika kehidupan yang kita alami. Syaratnya sangat mudah berimanlah, niscaya kehidupan kita akan sangat menakjubkan, berbagai soal kehidupan akan mudah terpecahkan.

tiga ciri orang ikhlas................

Jika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.
Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”

Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.

Buruknya Riya

Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Ciri Orang Yang Ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesa

tiga cara meraih kekayaan

Tiga potensi yang paling mendasar yang telah Allah berikan kepada kita hendaknya dapat kita manfaat dengan baik dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan akan potensi dasar tersebut. Tubuh kita, akal kita, dan ruh kita hendaknya kita pelihara, kita jaga, kita penuhi kebutuhannya.

Bagaimana ketiga potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencari kekayaan:

1. Bagaimana hasil usaha dari jasmani kita dalam mencari kekayaan

Firman Allah :

"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. At Taubah : 105)

“ Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk : 15)

Rasulullah bersabda :

“ Pekerjaan terbaik adalah usahanya seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual-beli itu baik.” (HR. Ahmad, Baihaqi dll)

Tidak ada satupun makanan yang lebih baik daripada yang dimakan dari hasil keringat sendiri.” (HR. Bukhari)

Berapa sih kemampuan fisik kita dalam mengumpulkan harta? Bila kita hanya mengandalkan kemampuan fisik kita maka rezeki yang didapatkan akan sangat terbatas. Kita sudah berusaha mengeluarkan dan mengerahkan kekuatan tubuh kita, hasilnya hanya dihargai beberapa rupiah. Berapa seorang kuli dibayar dari hasil tenaganya?

2. Bagaimana hasil usaha dari akal kita dalam mencari kekayaan

Allah berfirman,

“tiap-tiap orang berbuat menurut keadaanya (keahliannya) masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mngetahui siapa yang lebih benar (profesional) jalannya.” (QS. Al-Isra’ : 84).

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar : 9).

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. al-Isra: 36).

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasan Allah) bagi kaum yang berfikir (QS Al Jatsiyyah : 13)

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri………” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Rasulullah bersada:
"Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran." (Hadist Bukhari).

“Sesungguhnya Allah itu mencintai hamba-Nya yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya. [HR Thabrani].

Orang yang memiliki keahlian dia akan dibayar lebih tinggi daripada orang yang tidak memiliki skill (hanya mengandalkan kekuatan tubuh). Kemampuan akal memegang peranan yang penting dalam mencari kekayaan. Pekerjaan yang dilakukan bukan hanya sekadar bekerja keras dengan kemampuan fisik, akan tetapi bagaimana bekerja secara cerdas menggunakan akal.

3. Bagaimana hasil usaha dari ruhiyah kita dalam mencari kekayaan

“ Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah : 10)

"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A'raaf : 96)

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqarah : 261)

[166]. Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

Berkata Abu Hurairah r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. telah bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t. telah berfirman:
“Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku mengisytiharkan perang terhadapnya. Dan tiada seseorang hambaKu yang bertaqarrub kepadaKu dengan sesuatu yang lebih kucintai daripada ia menunaikan segala yang Kufardhukan ke atas dirinya. Dan hendaklah hambaku bertaqarrub kepadaKu dengan Nawafil, sehingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku mencintainya, nescaya jadilah Aku (seolah-olah) pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan pemandangannya yang ia memandang dengannya, dan tangannya yang ia bertindak dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan andaikata ia memohonKu pasti akan Kuberinya, dan andaikata ia berlindung kepadaKu pasti akan Kulindunginya”.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan ruhiyah pun tidak bisa diabaikan begitu saja. Allah SWT yang telah menentukan apakah kita akan mendapat rezeki atau tidak. Betapapun kita mengerahkan semua potensi kekuatan fisik kita dan berbagai strategi diterapkan, bila Allah belum menghendaki maka rezeki yang ada di hadapan kita belum tentu menjadi miliki kita.

Rezeki kita sesungguhnya adalah apa yang telah kita infakkan di jalan Allah. Apa yang ada saat ini belum tentu menjadi milik kita sepenuhnya. Bisa jadi ada yang mencuri harta kita, terjadi musibah kebakaran, bencana alam dan lain-lain yang akan menghilangkan dalam sekejap apa yang telah kita raih.

Saudarkau,

Kita harus sadar, berbagai upaya yang kita lakukan dari potensi-potensi tersebut harus benar-benar sesuai dengan aturan Allah. Bila tidak maka bukanlah kebahagian yang akan kita raih, tapi akan mengalami kesengsaraan abadi karena menikmati kesenangan yang semu.

Rabu, 29 September 2010

Memudahkan orang yang sedang kesulitan

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat.

Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat

dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat.

Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya.

Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga.

Sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya.

Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.

Damanya hidup dengan berfikir positif

Segala Puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam. Sadar gak sadar, ada satu hal yang dapat menyebabkan hidup kita menjadi tidak bahagia, yaitu sering nya diri kita berfikir negatif. Semua hal dapat menjadi rumit jika kita selalu memikirkan sisi negatif dari segalanya. Pikiran-pikiran negatif dan kata-kata negatif yang kita keluarkan juga kita dengarkan secara tidak langsung dapat membuat hati ini juga menjadi negatif. Hal ini yang menyebabkan mengapa kita dilarang mempunyai prasangka negatif dalam ajaran islam. Memang susah untuk dapat hidup dengan selalu berfikiran positif, karena banyak sekali godaan baik dari diri kita sendiri maupun dari musuh kita syaitan yang sering membisikan hal-hal yang negatif. Hal-hal ini dapat menjadikan hati kita menjadi kotor, sedikit-demi sedikit kita menjadikan diri kita menjadi orang yang pesimis dalam hidup.

Diriku sempat memikirkan bahwa fikiran negatif itu dapat merusak segalanya. Kita berfikiran negatif kepada seseorang yang sebenarnya akan berbuat baik kepada kita. Mengapa kita selalu mengawali nya dengan fikiran negatif ? Mengapa tidak diawali dengan fikiran positif ? Kita berusaha untuk melakukan suatu pekerjaan untuk mendapatkan sesuatu yang kita harapkan, pasti tidak sedikit fikiran-fikiran negatif kita selalu muncul, misal kalo gagal nanti gimana ? , kalo gak sesuai nanti gimana ? kalo tidak bisa nanti gimana ? dan masih banyak fikiran-fikiran negatif yang muncul di awal kita hendak melakukan suatu pekerjaan. Sehingga mungkin lama kelamaan malaikat yang bersama kita mencatat dan menjadikan itu sebagai doa yang buruk bagi diri kita sendiri. Karena selalu berfikir negatif akhirnya Allah SWT pun mengabulkan hal negatif yang kita fikirkan tersebut. Mengapa kita tidak berfikir positif saja dengan segalanya?

Kalau kita rasakan saja, kita akan lebih senang bergaul dengan manusia yang selalu optimis dan selalu positif. Baik pemikiran positif, kata-kata yang keluar dari mulut nya selalu positif dan hal-hal yang bersifat tidak negatif lainnya. Kita sebenarnya fitrahnya tidak akan pernah bisa bahagia dengan pemikiran-pemikiran, prasangka-prasangka, kata-kata yang negatif yang dapat menjadikan kita melakukan hal-hal yang negatif.

Saya dapat membayangkan kedamaian yang luar biasa dalam hidup ini jika semua orang hanya mempunyai pemikiran dan tindakan yang positif. Satu hal yang tidak boleh kita lupa, bahwa hidup kita ini sudah ada yang mengatur segalanya. Yang Maha Pencipta sesungguhnya telah mempunyai aturan dan rencana untuk hidup kita di dunia ini. Jadi mengapa kita selalu berfikiran negatif kepada sang pencipta ? Memikirkan hal-hal yang tidak perlu kita fikirkan, memikirkan apa yang akan terjadi di hari nanti atau esok. Sehebat itukah kita sehingga kita dapat berbuat demikian, apa hak kita untuk melakukan hal demikian. Jika kita hidup selalu positif, pastinya tidak akan gelisah dan khawatir dengan hal-hal yang negatif yang akan terjadi pada diri kita, karena kalaupun hal-hal yang negatif itu terjadi pada diri kita yakinlah Tuhan pasti sudah menyiapkan hal yang jauh lebih positif untuk diri kita. Karena Dialah yang mengatur segala nya tentang diri kita. Dan ada hal lain yang harus kita ingat, bahwa Allah SWT tidak akan pernah menganiaya hamba nya sedikitpun, semua kebaikan termasuk di dalamnya kita selalu berfikir positif pasti akan diketahuinya dengan baik. Dan dijadikannya hal tersebut menjadi doa bagi orang-orang yang selalu berserah diri kepadanya dengan selalu berfikiran baik dan positif kepada Tuhannya.

Mari kita sama-sama untuk selalu berfikiran positif dalam menjalani kehidupan dunia ini. Sedikit demi sedikit kita hilangkan semua pikiran yang negatif. Mungkin dengan cara :

1. Selalu berfikiran Positif kepada Allah SWT dengan terus menggali Alquran
2. Selalu berfikiran dan berprasangka baik/positif kepada sesama manusia
3. Jangan pernah memikirkan sesuatu negatif yang belum terjadi.
4. Selalu mengeluarkan kata-kata yang positif ketika berbicara
5. Jangan pernah mengeluarkan kata-kata negatif ketika berbicara
6. Mencoba untuk Berfikir selalu positif sehingga dapat menghasilkan perkataan, pemikiran dan perbuatan yang positif.

Hal tentang being positive ini merupakan sesuatu yang sangat indah, yang dapat menjadikan kita hidup dengan tentram.
No more negative ....

Selasa, 28 September 2010

Einstein Ternyata Seorang Syi'ah??????

Kantor berita Iran IRIB (24/9) baru-baru ini melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. Irib mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut madzhab Islam tersebut.

Berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, "Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam".

Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, "Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya".

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah.
Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai. (ags/irb)

40 Amalan Ringan Pembuka Pintu Surga

Setiap amal perbuatan manusia pasti ada balasannya di akhirat kelak. Bahkan, amal sepele yang beratnya tak lebih dari biji sawi pun ada hitungannya. Amal-amal itulah yang nanti akan menentukan kemana akhirnya seorang hamba kembali, ke surga atau neraka. Yang pasti, tak ada seorang manusia pun yang ingin dirinya kekal di neraka.
Banyak sekali amalan ibadah yang dapat kita lakukan sebagai seorang manusia. Baik amalan yang berat maupun amalan ringan. Insya Allah, Semua amalan kita akan diberkahi oleh Allah SWT.
Berikut adalah daftar 40 amalan kecil yang bisa membantu kita untuk membuka pintu surga, di sini ada 40 amalan "ringan" yang sebenarnya berat/besar di pandangan Allah SWT, kebanyakan diambil dari H.r. Bukhari :

1. Bersedekah Susu
2. Menyingkirkan Gangguan dari Jalan
3. Memberi Minum Binatang
4. Menjenguk Orang sakit
5. Mengunjungi Saudara sesama muslim yang sakit
6. Santunan Kecil kepada orang lain
7. Memerintahkan kebaikan dan mencegah Kemungkaran
8. Berbuat baik kepada orang yang lemah akal
9. Menolong orang yang terzalimi
10. Menahan diri dari menyakiti orang lain
11. Mengatakan kebaikan
12. Bersikap mudah dalam membayar dan menagih utang
13. Memberikan kemudahan dalam berjual beli
14. Memberi tangguh (tolerir) kepada orang lain
15. Membebaskan sisa pembayaran
16. Menutup aib seorang mukmin (dengan tindakan pasif aja gan)
17. Bertakziyah kepada sesama Muslim
18. Mengajarkan beberapa kata (yang berguna) kepada orang lain
19. Menyingkirkan kotoran dan gangguan dari masjid
20. Memasukkan kegembiraan dalam hati seorang mukmin
21. Memulai ucapan salam
22. Menjawab salam (wajib kifayah gan)
23. Berjabat tangan
24. Mencurahkan nasihat
25. Berterima kasih kepada orang lain
26. Memberikan maaf kepada yang bersalah
27. Mendoakan saudara sesama muslim
28. Mendamaikan dua pihak yang berseteru
29. Mengiringi Jenazah
30. Menghadiri undangan
31. Mendoakan orang yang bersin
32. Senyum di depan seorang muslim
33. Menunjukkan arah kepada orang yang tersesat di jalan
34. membantu seorang tuna netra dan yang buruk penglihatan
35. Bersedekah dengan seember air
36. Bersedekah dengan seutas tali
37. Bersedekah dengan tali sandal
38. Menghibur orang yang kesepian dan terasing
39. Memberikan tumpangan kepada yang membutuhkannya
40. Menjadi juru bicara bagi yang tidak mampu berbicara

Semoga Semua amalan ringan yang disebutkan diatas bisa menjadi amalan luar biasa yang dapat mengantarkan kita ke dalam surga. Namun, semua itu kembali lagi kepada ikhlas atau tidaknya niat kita. Jika tidak, amalan tersebut akan menjadi amalan ringan dan sepele yang biasa saja.

Hatinya Hancur dan buta

Malam itu di Rumah Amalia saya kedatangan tamu. Seorang laki-laki yang hatinya hancur. Laki-laki itu separuh baya. Wajahnya terlihat lebih tua daripada usianya sendiri. Awalnya ketika menikah sampai istrinya hamil dan melahirkan. Diusia anak laki-lakinya berumur sembilan bulan, istrinya meninggalkannya dan anak laki-lakinya. Istrinya meninggalkan karena kehidupan yang susah, 'aku menikah agar aku hidup bahagia bukan hidup susah.' begitu ucap istrinya.

Dalam seorang diri tanpa istri, dirinya merawat anak dan mengasuh. Apapun pekerjaan dilakukan untuk menghidupi sang buah hati. Kepergian istrinya telah membuat luka dihati, Peristiwa itu membuat dirinya menjauh dari Allah. Ibadah yang biasa dilakukan, tidak dilakukannya lagi. 'Buat apa sholat bila hidup menderita.' begitu tuturnya. Dengan hati yang terluka, perjalanan hidup ada kemudahan. Rizkinya lancar, anaknya tumbuh besar sampai menginjak kelas dua SD.

Anaknya menjadi kebanggaan. disekolah selalu ranking satu. Semua surat dalam Juz Amma' telah dihapal. Bahkan waktu masih berusia lima tahun sudah mampu membaca al-Quran dengan lancar. Kebahagiaan menyelimuti hidupnya, terkadang terselip kekecewaan, kemarahan dan perih dihatinya belumlah hilang. Sampai suatu hari anak laki-laki yang dicintainya sakit keras dan seminggu kemudian dipanggil oleh Sang Pecipta. Meninggal anak yang dicintainya benar-benar membuat hati terasa hancur, tidak ada lagi yang tersisa senyuman dibibir. Air matanya mengalir. Kepergian sang buah terasa menyayat dihati. 'Sudah tidak ada yang tersisa Mas Agus. Saya sudah tidak punya apapun dalam hidup ini.' Laki-laki mengusap air matanya.

'Saya mengira dengan cara menjauhi Allah, saya akan menemukan kembali apa yang hilang, yang saya temukan malah sebaliknya, makin banyak kehilangan demi kehilangan. Saya kehilangan Allah, saya kehilangan istri, saya kehilangan anak dan saya kehilangan diri saya sendiri.' lanjutnya. 'Maafkan aku Ya Allah. Astaghfirullah,' ucapnya lirih. Malam semakin larut. Ditengah hatinya hancur, beliau telah menemukan secercah cahaya untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

--
Teman, seberat apapun dalam hidup ini, mari kita semakin mendekatkan diri kepada Allah. 'Hasbunallah wanikmal wakil' Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami.' (QS. Ali Imran : 173). Menggantungkan harapan hanya kepada Allah akan memudahkan penderitaan menjadi kebahagiaan, cobaan menjadi kegembiraan. Setiap permasalahan hidup senantiasa ada solusinya bila kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ya Allah, Engkaulah Kekasih Sejatiku

Disaat semua orang telah pergi menjauhi kita. Disaat orang yang dulu menyayangi kita kini tidak peduli lagi. Disaat orang yang dulu memuji kita, sekarang malah menghina kita. Dunia menjadi terasa sunyi, sepi dan sendiri. Terasa tidak ada lagi yang menemani dalam hidup kita, Rasanya semuanya meninggalkan kita dalam kesendirian dan penderitaan.

Semua yang ada didunia bisa hilang kapan saja. Semua harta, anak, saudara, pasangan hidup, jabatan, kesehatan bisa meninggalkan anda tanpa mesti memberitahukan kepada anda. Namun bila kita masih memiliki iman maka ada yang tidak akan pernah meninggalkan kita, justru berada di dekat kita dan menemani kita bila kita mengalami segala kesedihan. Dia adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kekasih sejati bagi orang yang beriman.

Adakah didunia ini yang selalu menemani kita disaat kita membutuhkan sekalipun di liang lahat? Adakah orang yang selalu menghibur kita disaat kita bersedih? Adakah yang mau mencintai kita walaupun kita tidak mencintainya? Ingatlah! Allah adalah kekasih sejati kita. Allah Maha Pengasih dan Maha Peyayang akan senantiasa menemani dan menyayangi kita kapanpun dan dimanapun.

Allah berfirman dalam hadist qudsi. 'Kalau seorang hamba-Ku mengingat-ingatKu di dalam dirinya, AKu akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam angan-angannya, Aku akan mengingatnya di dalam angan-Ku yang lebih baik dari pada angannya. (HR. Bukhari & Muslim).

agar peluang tak berlalu begitu saja

Banyak sekali peluang yang bertaburan disekitar kita. Tapi sedikit sekali yang dapat kita manfaatkan. Mengapa hal demikian bisa terjadi.

1. Tidak ada keinginan
Namanya juga gak ada niat, bagaimanapun jika sudah tidak ada keinginan, ya itu rasa malas menggelayuti setiap gerak kita. Seolah-olah ada sesuatu yang menahan, ada semacam tembok baja yang sulit ditembus. Makanya agar peluang tak berlalu begitu saja harus ada keinginan yang mendorong untuk mengetahui peluang tersebut.

2. Informasi tidak utuh?
Peluang sudah ada dihadapan, hanya karena informasinya kurang rinci menjadi berlalu begitu saja. Dalam diri masih ada tersimpan rasa malas untuk menggali informasi lebih mendetail. Rasa ingin tahu dalam diri belum tumbuh. Informasi yang di dapatkan pun setengah-setangah. Ibaratnya masih melihat dari luar rumah belum masuk ke dalam rumah, ya wajar jika kita tidak mengetahui lebih jauh apa isi rumah tersebut. Carilah informasi yang mendalam agar kita mengetahui peluang tersebut secara mendetail sehingga dapat memanfaatkan peluang dan dapat merasakan nilai manfaatnya

3. Hanya sepintas lalu
Membaca sepintas lalu, tidaklah akan mampu mengantarkan kepada informasi yang mendetail. Wajar saja peluang itu berlalu begitu saja.

4. Anti Pati
Kalau sudah anti pati, begitu sepintas melihat maka pandangan akan langsung beralih. Jangan harap informasi itu akan dibaca.

5. Kurang mempercayai
Sudah mempelajari lebih rinci, tapi kurang mempercayai, maka sulit sekali peluang tersebut akan dimanfaatkan

6. Kurang Merespon
Ya sudah lalui begitu saja,

“dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)[1530].” (QS. Al Qiyaamah : 2)

[1530]. Maksudnya: Bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.

Banyak sekali peluang-peluang amal yang kita sia-siakan dan kita nanti akan menyesal, mengapa peluang itu berlalu begitu saja.

Sabtu, 25 September 2010

Penyesalan Seorang Anak

Tiga hari yang lalu, Pak Tua tetanggaku meninggal dunia. Terlihat laki-laki berwajah seram. Membawa keranda, menggali tanah, penuh keringat ditengah rintik hujan. Ketika semua orang pergi, laki-laki itu bersimpuh diatas pusara, air matanya mengalir dan berbisik lirih, 'Maafkan aku..Abah.'

Jumat, 24 September 2010

MEMAKNAI MAULID NABI

Bagaimanakah cara mencintai Rasulullah SAW? Ada banyak hal dilakukan umat Islam untuk menandai kecintaan pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Di antaranya adalah dengan menggelar peringatan hari lahir beliau, atau yang lazim disebut Peringatan Maulid Nabi.

Peringatan Maulid Nabi itulah yang hari-hari ini diselenggarakan umat Islam di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Di negara kita, Peringatan Maulid Nabi sudah menjadi tradisi masyarakat. Dari mulai tingkat RT, kelurahan, majelis taklim, masjid, perkantoran, hingga Istana Negara. Bahkan di beberapa kelompok masyarakat, seperti keraton, Maulid Nabi diperingati dengan acara-acara unik, misalnya Grebeg Maulid, arak-arakan tumpeng, keliling kota dengan dengan obor, dan sebagainya.

Acara-acara Peringatan Maulid Nabi seperti itu tentu saja baik. Apalagi yang diselenggarakan dengan menampilkan para ustad, kiai, juru dakwah/dai, akademisi, tokoh masyarakat, dan pejabat negara, untuk mengupas berbagai sisi dari kehidupan Rasulullah yang sarat dengan keteladanan. Namun, ada hal-hal yang perlu kita renungkan bersama ketika hari-hari ini kita menyelenggarakan Peringatan Maulid Nabi. Yaitu, jangan sampai acara-acara Peringatan Maulid Nabi itu hanya sebatas tradisi, hanya sebagai kebiasaan tahunan yang tak ber-ruh dan tak berjiwa.

Kecintaan pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW tidak boleh hanya cukup dengan menggelar peringatan hari lahir beliau. Bahkan juga tidak cukup hanya dengan pembelaan `mati-matian' terhadap Rasulullah SAW saat beliau dicaci, dihina, dan direndahkan oleh kelompok-kelompok tetentu, terutama masyarakat Barat, seperti yang telah terjadi beberapa waktu lalu.

Sekali lagi, Peringatan Maulid Nabi adalah baik dan terpuji. Bahkan harus kita jaga dan tradisikan. Juga pembelaan terhadap Nabi Muhammad SAW adalah wajib mutlak ketika beliau diremehkan, direndahkan, dan dihinakan. Namun, kecintaan pada Rasulullah SAW itu tidak boleh hanya berhenti di sini. Ada hal penting dan bahkan sangat penting ketika kita mencintai Rasulullah SAW. Yakni, bagaimana keteladanan beliau itu bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa.

Dalam hal pengelolaan pemerintah/negara misalnya, bukankah Rasulullah SAW sudah sangat jelas memerintahkan penegakan hukum tanpa pandang bulu? Sampai-sampai beliau menyatakan, `'Seandainya Fatimah anakku mencuri, maka akan saya potong tangannya.'' Beliau juga mengatakan bahwa orang yang menyuap dan disuap sama sama di neraka.

Begitu juga dgn kemiskinan, kebodohan, kemalasan, pengangguran, dan ketertinggalan yang menjadi `musuh utama' umat Islam di negeri ini. Bukankah di dalam Islam sudah dinyatakan bahwa Muslim yang kuat lebih baik dari Muslim yang lemah, tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (meminta), kefakiran (kemiskinan) hampir saja menjadikan seseorang sebagai kufur (kafir)? Juga perintah untuk menuntut ilmu, berzakat, berinfak, dan bersedekah, dan memberi salam ke kanan dan ke kiri pada setiap kita mengakhiri shalat. Semua itu menunjukkan ajaran Islam yang unggul dan sekaligus keteladanan Rasulullah SAW.

Apa yang disebutkan tadi tentu hanya sebagian dari keteladanan junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang hari-hari ini kita peringati hari kelahirannya. Yang menjadi keprihatinan kita, mengapa Islam yang mempunyai ajaran sangat unggul sebagaimana ada pada diri Rasulullah SAW, tapi umatnya terus terpuruk dalam kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan? Jawabnya, barangkali karena kita belum meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari meskipun Maulid Nabi kita peringati setiap tahun.

Sunnah dan kesilapan di hari Jumaat

Sabda Nabi SAW: “Hari terbaik yang memancarkan sinar mataharinya ialah hari Jumaat. Padanya diciptakan Adam AS, padanya dimasukkan dia ke dalam syurga dan padanya dikeluarkan dia darinya. Dan tidak akan berlaku hari Kiamat kecuali pada hari Jumaat.” (Sahih Muslim: 854 )

Sunnah-sunnah di hari Jumaat

1)-Mandi dan berwangi-wangian (lelaki sahaja). Rasulullah SAW berkata: “Mandi pada hari Jumaat itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh. Hendaklah dia menggosok gigi dan memakai wangian jika mempunyainya.” (Sahih, al-Bukhari:880, Muslim:846)

2)-Membanyakkan selawat kepada Rasulullah SAW. Kata Nabi SAW: “Sesungguhnya sebaik-baik hari ialah hari Jumaat, maka perbanyakkanlah selawat keatas ku pada hari tersebut. Sesungguhnya selawat kalian akan diperlihatkan kepadaku.” (Sahih, Abu Daud:1047, disahihkan oleh al-Arnaouth)

3)-Membanyakkan berdoa terutama diakhir waktu asar. “Pada hari Jumaat terdapat dua belas jam, pada waktu itu tidaklah seorang hamba Muslim memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkannya. Oleh itu, carilah ia diakhir waktu setelas asar.” (Sahih, Abu Daud: 1048, di sahihkan oleh al-Hakim, adz-Dzahabi, an-Nawawi dan al-Albani)

4)-Membaca surah al-Kahfi. Rasulullah SAW berkata: “Sesiapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumaat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumaat.” (Sahih, al-Hakim:3392, disahihkan oleh al-Albani)

5)-Berjalan kaki dan bersegera ke masjid. Kata Nabi SAW: “Sesiapa yang memandikan atau mandi pada hari Jumaat, kemudian bersegera dengan berjalan kaki, tidak menaiki kenderaan, dan mendatangi imam lalu mendengar (khutbah) dan tidak bermain-main, maka adalah baginya setiap langkah (bersamaan) amalan puasa dan solat selama setahun.” (Sahih:Sunan Abi Daud: 345, al-Albani mensahihkannya)

Kesilapan-Kesilapan di hari Jumaat.
1)-Datang lewat ke masjid. Kata Rasulullah SAW: “Pada hari Jumaat para malaikat duduk di pintu-pintu masjid, bersama mereka lembaran-lembaran catatan. Mereka mencatat (orang-orang yang datang shalat), apabila imam telah keluar (untuk memberi khutbah), maka lembaran-lembaran itu ditutup.” (Hasan, Ahmad:21756, dinilai Hasan oleh al-Albani)

2)-Membaca al-Quran atau memasang rakaman bacaan al-Quran dengan kuat. Kata Nabi SAW: “Ketahuilah sesungguhnya kalian semua bermunajat kepada Tuhan. Oleh itu, janganlah sebahagian kalian mengganggu sebahagian yang lainnya, dan janganlah sebahagian mengangkat suara atas yang lainnya dalam membaca al-Quran”, atau baginda berkata “di dalam solat.” (Sahih, Abu Daud:1332, disahihkah oleh Ibn Abdil Barr dan al-Albani)

3)-Tidak memenuhkan saf hadapan. Kata Nabi SAW: “Jika kalian atau mereka mengetahui apa yang terdapat dihadapan saf paling hadapan, nescaya akan dilakukan undian. [bagi mendapatkan saf hadapan]” (Sahih, Muslim:439)

4)-Bermain tasbih, bersiwak dan lain-lain ketika mendengar khutbah. “Barangsiapa memegang batu kerikil [ketika khutbah], maka dia telah berbuat hal yang sia-sia.” (Sahih, Muslim:857)

5)-Tidak melakukan solat tahiyatul masjid apabila tiba ketika imam berkhutbah. Kata Nabi SAW: “ Jika salah seorang daripada kalian tiba (di masjid) pada hari Jumaat dan imam sedang berkhutbah, maka solatlah dua rakaat dan ringkaskanlah solat tersebut.” (Sahih, Muslim:875)

6)-Masih melakukan urusan keduniaan apabila azan telah berkumandang. Firman Allah: “Wahai orang-orang Yang beriman! apabila diserukan azan untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jumaat, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah dan tinggalkanlah berjual-beli (pada saat itu); Yang demikian adalah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui ” (Surah al-Jumuah:9)

7)-Bercakap ketika khutbah. Rasulullah SAW berkata: “Jika engkau berkata kepada teman engkau “Diam” pada hari Jumaat dan imam sedang berkhutbah, maka engkau telah membuat sesuatu yang sia-sia.” (Sahih,al-Bukhari:934, Muslim:851)

8)- Bersandar ke dinding dan tidak menghadap khatib. Kata Ibn Mas’ud r.a: “Jika Rasulullah SAW sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami menghadapkan wajah kami ke arah beliau.” (Hasan, at-Tirmizi:509, disahihkan oleh al-Albani)

Kamis, 23 September 2010

ceramah tentang keikhlas Itu Indah

Hujan rintik-rintik membasahi bumi, udara berhembus terasa segar. Seorang pemuda telah selesai menunaikan sholat dzuhur berjamaah di masjid. Pandangannya menyapu ke arah halaman masjid, tidak jauh darinya ada seorang perempuan tua yang duduk ditengah lapangan menarik perhatiannya. Tiba-tiba sebuah tas kecil dari tempat nenek itu terbang tertiup angin kencang. Segera pemuda itu memperhatikan teriakan nenek itu minta tolong, ingin tasnya diambilkan.

Merasa terpanggil pemuda itu segera berlari mengejar tas kecil, terlihat tas itu telah melesat jauh, dia berlari dengan terengah-engah kelelahan. Berlarilah pemuda itu sekuat tenaga dan tas kecil itu berhasil juga dipegangnya. Nampak keringat bercucuran, dengan hati penuh kebahagiaan dia berlari kecil mengantarkan tas kecil. Terlintas didalam hatinya lelah yang dirasakan tentunya akan disambut dengan senyuman dan ucapan terima kasih sang nenek sudah cukup sebagai balasan atas kebaikan yang telah dilakukannya.

Namun diluar didugaannya, sang nenek segera merebut tas kecil itu dan membalikkan tubuhnya dengan wajah yang cemberut, sepintas seperti marah. Pemuda terkejut bukan main. Jangankan senyuman dan ucapan terima kasih, wajah ramahpun tidak terlihat. Pemuda itu kebingungan. 'Apa dosaku ya?' ucapnya lirih. Dia tak bisa bergerak, malu, kesal, kecewa tercampur aduk.

Berkali-kali pemuda istighfar, siang itu dirinya menemukan pelajaran yaitu makna ikhlas. Ya tentang keikhlasan. Keikhlasan berarti tidak pernah berharap apapun, bahkan balasan walaupun berupa senyuman dari yang kita perbuat. Lakukanlah segala perbuatan baik semata-mata karena Allah. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Siang itu dihalaman masjid, pemuda itu mendapatkan pelajaran bahwa ikhlas itu indah.

'Dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakan.' (QS. At-Thuur : 21).

Rabu, 22 September 2010

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

Wonders and grateful favor

Sometimes, Amalia House, I invited my father, who hit lisansiman. According penuturannya the office where he worked were reduced and employees, and its one of those affected by layoffs. Is the information in terms of 10 years received a single Severance pay grade.

Thus, a figure all smiles and said, 'Thank God, I believe it is God's plan is best for my family and I have come to this lisansiman is why I intend bershodaqoh Amalia children receive Allah bless the Liberation and my family I have. "He said that confidence. Lisansiman be another brother, but believed it was wise of liberalization occurs, a false and based on his life to the Lord himself.

More than a week in paid Severance ending waiting for security such as liquid, which was 75 million. Money spent on operations, thanks to God, God gave them Rizk still plentiful responsible company is currently developing more advanced and already has his own shop. This image of always appreciated. Is donateur happy look good, instead of looking for fun, it is a welcome miracle.

'We would be grateful if someone could add in your benefits. "(Sura Ibrahim: 7).

Keajaiban Bersyukur

Pernah di Rumah Amalia, saya kedatangan tamu, seorang bapak yang baru saja terkena PHK. Menurut penuturannya di kantor tempatnya bekerja sedang ada pengurangan tenaga kerja dan dirinya salah satu orang yang terkena PHK. Ada informasi bahwa masa kerja dibawah 10 tahun hanya akan mendapatkan 1 setahun gaji pesangon.

Dengan wajah yang penuh senyuman beliau mengatakan, 'Alhamdulillah, saya yakin ada rencana Allah yang terindah untuk saya dan keluarga saya dibalik PHK ini, Itulah sebabnya saya niatkan bershodaqoh untuk anak-anak Amalia agar PHK ini mendapatkan keberkahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi saya dan keluarga saya.' Ucap beliau penuh keyakinan. Mungkin PHK menjadi momok bagi orang lain namun keyakinannya ada hikmah dibalik PHK yang dialaminya, membuat hati beliau menjadi kokoh dan disandarkan hidupnya kepada Allah semata.

Hampir satu minggu menunggu kepastian uang pesangon akhirnya cair juga, yang didapatkan 75 juta. Uang itu digunakannya untuk usaha, alhamdulillah, rizki yang Allah berikan semakin melimpah dengan usaha yang sekarang dikelola semakin maju dan berkembang bahkan sudah memiliki ruko sendiri. Begitulah gambaran orang yang senantiasa bersyukur . Bersyukur adalah melihat kepada Sang Pemberi nikmat, bukan melihat kepada nikmat, Itulah keajaiban bersyukur.

'Dan barangsiapa bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat Kami kepada kalian.' (QS. Ibrahim : 7).

Rich and go to heaven

The Abi 'Abdallah bin Tsauban Bujdad The Messenger of Allah. He said: "Dinar line is the dinar to someone that he spends for his family, the dinar he spends spent on his car on the way of Allah, and he infakkan dinars to his colleagues (fighting) in Allah's way." (Muslim)

In the book Nuzhatul-Muttaqin (work righteous Riyadush-Sharh An-Nawawi Imam) Hadith is that the wealth ranking mentioned priority issues (explained infak) that provides a living for a family infak noble. worth mentioning in another Hadith:

"Dinar infakkan you in Allah's way, that is for infakkan Dinar (mememerdekakan) slave, whom you infakkan dinars to the poor, and you infakkan dinars for the family, the most prominent among them, that you dinar infakkan your family." (Muslim )

For each distribution, which is of course impossible for a person if berinfak not good. This involved the more so when we look at the verses of the Quran commands us to jihad. obliged them to always compare between the spirit of jihad to fight jihad with their wealth obligations. From strings to try all that we strive with their wealth and lives commands to it, have their wealth always takes precedence, except in one verse, the sale is 111 Surah At-Taubah, which meant:

"Allah is aware of the believers their lives and property through the acquisition of a sky bought for her. They fight in Allah's way, then they will kill or be killed."

The rest, hartalah ex. Consider the following arguments:

"O faithful people, is willing to give you a bargain that save you from a grievous adzab. They believe in Allah and His Messenger and striving in the path of Allah denganh wealth and your souls. (Ash-pit: 10-11)

This commitment is reinforced by Zaka. In this issue there is a feeling on the part of Muslims. Zaka obligations often means this: If you have a treasure zakatlah, and if not, must not be expended Zaka. In the case of this understanding is correct. But its spirit is the Spirit of resignation from the circumstances. Spirit of charity should understand the command: find the money to collect the treasure in order to execute God's command is, Zaka. We need to bring the spirit of prayer, which are used for charitable purposes. We always thought we should be able to fight lead prayer with each impact. By Aura start looking for cover looking for a place of prayer that determine the direction of the Qibla, cleaned well, and so on.

That's all from the assumption that some people still respected kesalihan and piety, the same as the poverty, misery, misery and oppression. It is as if only the poor, commoners, and a good live tertindaslah sky. Instead of the rich and people who work have no place in heaven. This will gave out frequent hadith da'eef disitirnya (light) or maudhu (false) complicated because the message to stay away from the world, as far juahnya of piety and holiness of the soul. Or maybe as saheeh hadeeth about the ascetic understanding misquoted.

Devotion is not identical with empty hands. Piety wants careful with what Allah SWT. Piety is the lack of connections with wealth and the liver. The fact that he was satisfied with what God has given and in the liver by eliminating the connections with its wealth a person wealth and position, this would not invalidate the nature of an ascetic.

Uthmaan ibn 'Affan is conglomerates and rich. The companions of the prophet are. guaranteed in the sky. 'Abd ar-Rahman bin' Auf. He was successful in business and became a wealthy businessman. After all, he is also a guaranteed entry into heaven. Umar bin Abdul '-' Aziz, had the Caliph. But it is exactly ascetic.

Treasures of Islam in the same position with the position of poverty: as a test for people. With the prosperity of the people in the sky, and people with wealth can go to hell. The poverty of people in extreme poverty, air, and people can go to hell. The whole test! Allah SWT. declared,

"And we try to provide you with evil and the good, (what ever) as a test." (Al-Anbiya: 35)

Messenger. said:

"The real world is sweet and green. And behold, God give you a caliph in the first test () made to do. Thus, careful with the world and be careful with women. Because the children of Israel is really in the defamation Women. "(Reported by Muslim)

So, not a religious person, but the people elected to the property to be handed out the examination of the Treasury. An individual is a cross when it comes to real estate:

* Take legal means to obtain wealth.

On the day of Judgement, everyone will take the responsibility of the property, where he is and in what way? It is the first criterion. Messenger. said:

And verily, Allah commanded the believers to lead the apostles. He said: "O send, eat well and do good, because salehlah kamlian sessungguhnya I know what to do." He also said: "O people, the good faith belief that the food we have given you." And the Messenger of Allah. Explained for people who travel a long, messy and dusty. It mengadakahkan both hands (prayer) in the sky (saying): "O Lord, Lord, and his food is haram, forbidden to drink his clothing unlawful, and driven by banned because his prayers are offered." (Muslim)

* Fortune is arrogant caused

Who suksus treasure is the person who manages the ownership is just that humble and realize that everything for a deposit or a mandate from God. Abdur Rahman bin on ', although people who are never guaranteed to go to heaven in tears when he eat a delicious meal before him. When asked, she was crying cause she replied, "only I'm afraid that I am in this world, which was enjoyed ganjaranku of God."

* As a framework to draw closer to God.

The Prophet said: "The best of the treasures, the pious in the present is pious." He told us, "when to refrain from hell and only the date."

He * was the framework for the friendship.

Infaq is good. And infaq relative is better. For perbauatan next taqarrub valid was also an attempt friendship. Messenger. said the people is Sadaqah misikin shadaqah shadaqah and for people who have uterine relations (are) two shadaqah: shadaqah and shilah (tie),. "(At-Tirmidhi)

* A framework to be struggling.

Islamic war is clearly not possible without financial support. The Power of infidels must be confronted with an optimal strength of Muslims. And this is certainly one that kekutan maliyyah power (financially).

This was part of Islamic teachings on wealth. So, a rich man, have the fear? "God knows best.

Selasa, 21 September 2010

by what we give alms

Returning from Abu Dhar. Said:

Prophet, in which the friend said: "O Prophet of the group is rich reward for their purchase. To pray as we pray, we fast, as fast, give alms, but the advantages of wealth" is.

, Said: "God does not sedekahkan what you can do! Probably all versions of prayer is not charity, charity tahmid every prophet there is no charity, send Courtesy of charity and the charity was your spouse ".

Question is "God, a messenger that should reward any syahwatnya? If

He said, "What, your opinion on when the forbidden place, I think given what his sins? Also, when the legal grounds of the winning put" (story started by a Muslim)


Abu Hurairah to the. Said:
Messenger. He said: "Every human spine disedekahi Sunday day is still needed. Up to 2 persons (in war) is a charity, to help peace between vehicles mengangkatkan or things you would be able to mount a charity in the streets, speak to a charity in each phase leg is swinging his mosque to a charity and removing barriers to the road is charity. "(Bukhari and Muslim narratives)


Abu Dhar r.a. He said: the Prophet said: "charity is a duty on the morning of each joint. And copy of each charity, and the messenger of God (La ilaha illallah each is a charity, and every tahmid alms, alms, and all interpretation, and that charity is good, and to prevent unemployment, and want to replace and all only 2 raka 'in Dhuha is voluntary. (narration by Muslim)

Mysterious helper

A man rushed at dusk fell over night change, ablution. Invitation to resonate with beautiful adzan meet in heaven.

"God is great! Voice of the man began his prayer.

He enthusiastically God once to practice their religious rituals. Visible signs of wrinkles in the forehead prostration. In sujudnya, and said that he drowned in the series by series, to pray. After prayers. While he lay on mat stunned and tears, and begged forgiveness of God.

And men at night, when he rose to the top, just moved from the mat.

"It seems it was getting late whispered ...,".

Ali El Abidine zine, the man walked towards the warehouse full of expert religious food ingredients. Also opened the door of the property to a warehouse. And then release the pouches flour, wheat and other food ingredients.

The center of the pitch black night, and Ali Zine El Abidine involves a sack of flour and wheat on the back of weak and thin. Travel in Madinah Transport bag, and put it on the door for people who need to house them.

At this point, a calm and free, and people fall asleep, Zine El Abidine Ali, and give alms to the poor in the corners of Medina.

"Praise be to God ... and landfill property actually tell the person who is right," said Ali Zine El Abidine. Relieved her heart to perform the operation before dawn. Before people woke up from his dream.

People cried when daylight appears, with the benefit of a bag of flour in front of the door.

H, I have put this bag wheat! " Shouted the people who get mad.

"Fortunes of God has come! Someone brought us!" We welcome others.

So did the next night, Ali El Abidine Zine always send bags of food to the poor. With the looming move to a state of control when he went in the middle of the night. He put the bag just before the doors to people who are starving.

"Really! Wellness and we darikesengsaraan and hunger! Because the lawyer who does not know!" The poor man when morning comes.

"Yes! Treasure God gives double rescuers ...," one friend.

From a distance, and Ali Zine El Abidine to hear all the people who get on the news a bag of flour. His heart was grateful to God. Because, and by giving alms to the poor wealth is not impaired so far the results of agricultural trade and Ali El Abidine Zine increase profits.

Nobody knows where bags of food? Who delivered?

The Zine El Abidine Ali was happy to see the poor in his town, not kelaparn experience. He has always find information on those who are in distress. Last night, he immediately sent bags of food for them.

That night as usual, Ali Zine El Abidine have a bag of flour over his shoulder. And left under cover of darkness. Suddenly, without guessing a person jumped from the bushes. Then block!

"Oh, let all your tax: If you do not ...," masked men threatened a sharp knife into the neck of Ali Zine El Abidine.

When he surprised a bit overwhelming. He realized that he was being robbed. "Come quickly! Where is his money?" Malfunction of this man swung a knife.

"I am ... I just ...," the bottom of the bag on his shoulders, then threw the bag maximum text thief. And expand to make a masked man on the ground firmly. And found that they could make him a gestational sac can not move. Ali quickly pulled mask on his face. Could be that this person does not go on fighting.

"Who are you?" Asked Ali, and consider in light of the man.

"Forgive me, sir .... not torment me ... I was just a poor slave fears ...," he said.

"Why did you take me?" Ask Ali at a later date.

"And forgive me and I had to steal because my children starve," she said, looking pale.

Ali's body to release the bag struck the man. Breathless. Ali had no heart for further questioning.

"Forgive me, Mr. President, I'm sorry I hurt ...

"Good, you can leave, and please bring a sack meal for your kids. You're in trouble, is not it?" Said Ali.

Some of the time, people were silenced. Go to astonishment.

"Now I am home!" Said Ali.

Immediately the man sat in front of Ali, and tears.

"Mr. President, thank you! Master is very good and noble, I repent to God ... I promise I will not repeat it," said the man sadly.

Ali smiled and nodded.

"O people merdekakan repent! Who am I even in the way of Allah! Really, God is merciful." The man was grateful to God. And presented a gift to him because he has repented for his mistake.

"Ali and I ask, do not tell anyone about your meeting with me at night ...," he said before his departure." Enough pray that God forgives all sins of my country, "continued Ali.

The man kept his promise. He said he did not occur to anyone that was one of those who were sent bags of food to the poor.

When a Zine El Abidine death. People who have been released immediately bertakziah over to her house. United to bathe his body with people.

These people see black marks on his back on the shoulders of the body. They even ask.

"How long will this black mark?"

"It was the old bags of flour, usually made of 100 houses in Medina," said convertible with a sense of passion.

Only those who know where it came from a source of livelihood they get it. With the death of Ali Zine El Abidine are ordinary families to donate, which was lost.

And the conversion and then raised his arms, he prayed, "God forgives sins Ali Bin Al Hussein bin Ali bin Abi Talib, the grandson of the Prophet.
Listen
Read phonetically

Cukuplah Allah Menjadi Penolong Kami

Bila kita sedang menghadapi berbagai ujian, cobaan, musibah barulah menyadari kita memerlukan pertolongan. Kita baru tersadar bila kita tertimpa ujian dan cobaan yang bertubi-tubi, seolah terlempar ke dunia yang terasa begitu berat membuktikan bahwa kita makhluk yang lemah, tidak berdaya, kita memerlukan bantuan, kita memerlukan bantuan. Namun kepada siapa kita meminta pertolongan? Bukankah disekeliling kita juga membutuhkan pertolongan? Secercah harapan dalam hidup kita hadir bila kita menyakini 'Hasbunallah wanikmal wakil' (QS. Ali Imran: 173). Artinya, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami.'

Ketika Nabi Ibrahim Alaihi Salam dilempar ke dalam kobaran api, beliau mengucapkan 'Hasbunallah wanikmal wakil' Allah menjadikan api yang panas menjadi dingin sehingga Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api yang membara. Demikian juga ketika Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam dan para sahabatnya mendapatkan ancaman juga mengucapkan 'Hasbunallah wanikmal wakil' yang membuatnya selamat dari marabahaya.

'Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.' (QS. Ali Imran : 173-174).

Kita tidak akan bisa mampu melawan bencana, menaklukkan semua derita dan mencegah musibah yang datangnya setiap saat dengan cara kita sendiri sebab kita memiliki kemampuan yang terbatas, kita diwajibkan berikhtiar untuk menyelesaikan setiap masalah bagaimana hasilnya selebihnya kita menyerahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jika tidak demikian, adakah jalan keluar yang lebih baik untuk kita tempuh disetiap kita menghadai ujian dan cobaan?

'Dan bertawakallah engkau hanya kepada Allah, jika engkau orang-orang yang beriman.' (QS. al-Maidah : 23).

Teman yang berbahagia, bertawakallah kepada Allah yang Maha Kuat dan Maha Sempurna yang kekuatannya begitu teramat besar tak terbatasi, jadikanlah 'Hasbunallah wanikmal wakil' sebagai amalan yang bermakna dalam setiap langkah kita. jika anda sedang terlilit hutang, menghadapi cobaan yang beruntun, kehilangan pekerjaan, rizki yang seret, dikhianati orang yang anda cintai, sedang dalam keadaan sakit parah, jika anda takut terhadap perlakuan orang berbuat dzalim, mengadu dan berharaplah kepada Allah dengan mengucap 'Hasbunallah wanikmal wakil' Insya Allah, ujian, cobaan, penderitaan dan masalah kita selesai dengan pertolongan Allah. Amin..

Pendeta Pembakar Alquran Tewas Terpanggang?

ad berita menarik di Internet Beredar kabar bahwa Bob Old, pendeta yang pembakar Alquran di belakang rumahnya, tewas terpanggang dalam kecelakaan mobil. Benarkah?

"Pastur Bob dari Tennesse AS yang mgg lalu bakar Quran, mati terpanggang dalam kecelakaan mobil yang fatal. " demikian seperti dikutip okezone, dari salah situs forum terbesar di Indonesia, Senin (20/9/2010).

Ada beberapa situs lain yang disebutkan mengangkat berita tewasnya pendeta pembakar Alquran dalam rangka memperingati tragedi 9/11 tersebut, antara lain :

1. Pastor Bob Old Died In A Car Crash (Sky News).
(Pastor Bob Old Tewas dalam Kecelakaan Mobil, Sky News)

2. Pastor Bob Old Of Tennessee

3. Sky News This Morning

Pastor Bob Old Of Tennessee Who Burnt A Quran Last Week Was Involved In A Fatal Car Crash Early This Morning He Died On The Spot In His Car Police Found A Box Of Matches And A Quran In His Glove Compartment (from turntoislam.com) Pastor Bob Old Of Tennessee Who Burnt A Quran Last Week Was Involved In A Fatal Car Crash Early This Morning He Died On The Spot In His Car Police Found A Box Of Matches And A Quran In His Glove Compartment (from turntoislam.com)

"Pendeta Bob Old dari Tennessee yang terlibat dalam pembakaran Alquran akhir minggu lalu, mengalami kecelakaan fatal pagi ini. Dia langsung meninggal di tempat. Di dalam kendaraannya, Polisi menemukan sebuah kotak dan Alquran dalam kompartemen sarung tangan Nya (dari turntoislam.com)"

4. Pastor Bob In Tennessee US Burnt Two Korans (On Saturday News )

Pastor Bob In Tennessee US Burnt Two Korans On Saturday This Is A Book Of Hate Not A Book Of Love Pastor Bob Put Two Korans Into The Flames Danny Allan Is Watching Pastor Bob Old Burnt Two Copies Of The Koran In His Own Iv Just Heard That This Pastor Just Died In A Fatal Car Crash Reply Ivarfjeld Says September 17 2010 At 104 Pm Dear Abdul Shalom And Welcome To This Site Several Muslim Readers Have Tried To Publish This Kind Of Message Today from wordpress.com)

"Pendeta Bob dari Tennessee, AS, pembakar dua Alquran, On Saturday News

Pendeta Bob dari Tennessee, AS, yang membakar dua Alquran pada Sabtu. Ini adalah sebuah buku kebencian, bukan buku cinta. Pendeta itu meninggal dalam kecelakaan yang fatal.

Peran Pemimpin Menanggulangi Krisis Bangsa

Al-Qur’an mengabadikan dalam banyak ayat-ayatnya sejumlah nama tokoh/pemimpin masyarakat dari ummat-ummat terdahulu, bukan saja pemimpin, pahlawan perjuangan kebenaran dan keadilan seperti para nabi dan rasul, tetapi juga diabadikan nama tokoh-tokoh pemimpin kezaliman (ketidakbenaran dan ketidakadilan) seperti Fir‘aun, Haman, Qorun, Namrud dan lain sebagainya. Kita semua ummat zaman akhir ini diajak berfikir dan mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu itu, di antaranya betapa perilaku yang berubah dalam diri para pemimpin (dari komitmen idealisme ke penyelewengan) berujung pada merajalelanya kezaliman dan penindasan (ketidakbenaran dan ketidakadilan), dan akhirnya menyeret mereka bersama-sama dengan ummatnya ke dalam suatu perubahan total dimana rakyat ditelan oleh krisis, yang disadari atau tidak mereka para pemimpin telah menjadi faktor penyebabnya. Al-Qur’an kemudian menjelaskan bahwa hal yang demikian —yakni kehidupan jaya yang mereka nikmati berubah menjadi derita— terjadi disebabkan perubahan yang mereka lakukan atas sikap hidup dan perilakunya yang berujung pada kezaliman dan penindasan (Dzalika bi anna Allah lam yaku mughayyiran ni‘matan ’an‘amaha ‘ala qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim, al-Anfal ayat 53).

Dengan merujuk petunjuk Al-Qur’an tersebut di atas, dapat kita lihat betapa faktor peran pemimpin menjadi penting dalam suatu perubahan yang terjadi atas sesuatu masyarakat dari suatu kondisi positif beralih ke kondisi negatif. Oleh karena itu, upaya penanggulangan krisis moral yang disadari menjadi pangkal krisis-krisis lainnya yang sedang melanda bangsa dan negara kita dewasa ini, haruslah bertitik tolak dari reformasi moral kepemimpinan. Upaya ini harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan moralitas pemimpin-pemimpin masyarakat/pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat (ulama dan umara). Mereka diharapkan mampu mengembangkan dalam kehidupan pribadinya masing-masing, pola hidup Bersih, Sederhana, dan Mengabdi. Yang lebih penting lagi bagi ulama dan umara adalah upaya menjadikan dirinya (kehidupan pribadinya) suatu keteladanan dan pencerminan yang meyakinkan bahwa penerapan pola kehidupan yang Bersih, Sederhana dan Mengabdi yang merupakan wujud nyata dari moralitas luhur (Akhlak Mulia) itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Dengan demikian, maka masyarakat akan percaya kepada pemuka atau pemimpinnya. Pola hidup BSM (Bersih, Sederhana dan Mengabdi) itu yang perlu dimasyarakatkan dengan kepeloporan para ulama dan umara hingga menjadi moral ekonomi, moral politik dan moral hukum, dan terus diupayakan pengembangannnya di sektor-sektor kehidupan lainnya sehingga pada saatnya menjadi Akhlak Bangsa dan Moral Nasional sebagai landasan Pembangunan Nasional. Umara (Pemimpin Pemerintahan) perlu berupaya menciptakan suatu iklim yang kondusif bagi pemasyarakatan dan penyebarluasan pesan-pesan moral (yang terutama ditangani para ulama). Juga dipandang perlu, ulama dan umara secara bersama-sama menyatakan perang terhadap korupsi dalam suatu kampanye anti korupsi, yang membina terus-menerus upaya menegakkan kedaulatan moral menjadi bagian dari kedaulatan rakyat. Insya Allah, taufiq dan ma‘unah-Nya akan senantiasa menyertai bangsa Indonesia.

peranan al-Qur'an

Al-Qur’an mengabadikan dalam banyak ayat-ayatnya sejumlah nama tokoh/pemimpin masyarakat dari ummat-ummat terdahulu, bukan saja pemimpin, pahlawan perjuangan kebenaran dan keadilan seperti para nabi dan rasul, tetapi juga diabadikan nama tokoh-tokoh pemimpin kezaliman (ketidakbenaran dan ketidakadilan) seperti Fir‘aun, Haman, Qorun, Namrud dan lain sebagainya. Kita semua ummat zaman akhir ini diajak berfikir dan mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu itu, di antaranya betapa perilaku yang berubah dalam diri para pemimpin (dari komitmen idealisme ke penyelewengan) berujung pada merajalelanya kezaliman dan penindasan (ketidakbenaran dan ketidakadilan), dan akhirnya menyeret mereka bersama-sama dengan ummatnya ke dalam suatu perubahan total dimana rakyat ditelan oleh krisis, yang disadari atau tidak mereka para pemimpin telah menjadi faktor penyebabnya. Al-Qur’an kemudian menjelaskan bahwa hal yang demikian —yakni kehidupan jaya yang mereka nikmati berubah menjadi derita— terjadi disebabkan perubahan yang mereka lakukan atas sikap hidup dan perilakunya yang berujung pada kezaliman dan penindasan (Dzalika bi anna Allah lam yaku mughayyiran ni‘matan ’an‘amaha ‘ala qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim, al-Anfal ayat 53).

Senin, 20 September 2010

bahaya penyakit dengki

Diantara penyakit yang merusak pahala puasa adalah dengki, dalam bahasa Arab disebut hasad. Dengki adalah perasaan tidak senang atas keberuntungan orang lain disertai usaha menghilangkan dan memindahkan keberuntungan itu kepada diri sendiri (an tatamanna zawala ni`mat al mahsud ilaika). Adapun menginginginkan hal yang serupa dengan yang diperoleh orang lain tidak termasuk dengki, karena al Qur’an bahkan menyuruh kita berlomba meraih kebajikan (fastabiq al khoirat).

Mengapa orang mendengki ? Dasar dari sifat dengki adalah adanya keinginan orang untuk menjadi orang nomor satu, menjadi orang yang terhebat, terkaya, terhormat dan ter-ter yang lain, yang berkonotasi rendah. Dalam bahasa agama, dunia dengan segala urusannya adalah sesuatu yang rendah. Dalam bahasa Arab, dun ya artinya dekat atau rendah atau hina. Jadi orang hanya mendengki manakala yang diperebutkan itu sesuatu yang rendah, hina dan berdimensi jangka pendek, ibarat `orang yang memasuki lorong sempit yang hanya muat satu orang. Ruang sempit itulah yang menyebabkan para peminat harus berdesakan dan saling menyikut. Selanjutnya jika ada satu orang yang telah berhasil memasuki lorong dan berhasil menduduki kursi duniawi yang diperebutkan, kursi presiden misalnya, maka orang yang belum berhasil memandang orang yang telah berhasil sebagai hambatan yang harus disingkirkan, sementara orang yang telah berhasil menduduki kursi itu memandang orang lain yang berminat sebagai ancaman yang juga harus dihambat.

Adapun jika memperebutkan sesuatu yang besar, mulia dan berdimensi panjang hingga akhirat, maka diantara para peminat justeru terdapat hubungan. Orang yang merindukan derajat takwa misalnya, ia akan senang jika ada orang lain yang bermaksud sama. Demikian juga orang yang ikhlas berdekah, maka ia sangat senang jika ada orang lain yang juga gemar bersedekah. Jika diantara orang yang ingin menjadi orang dekat presiden terdapat saling iri, saling menjegal dan sebagainya, hal itu adalah karena sempitnya ruang untuk menjadi orang dekat presiden, Tetapi jika ingin menjadi orang yang dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka seberapapun banyaknya orang yang menginginkan, disana tersedia ruangannya, karena Allah Maha Luas rahmat Nya.

Dengki itu sangat berbahaya, bukan hanya bagi diri pemiliknya tetapi juga bagi masyarakat luas. Dengki itu kata hadis nabi ibarat setitik api yang dapat membakar kayu bakar seberapapun banyaknya. Ia juga bagaikan pisau cukur yang bisa mencukur bersih amal seseorang. Kata Nabi, hanya dua hal orang boleh iri; yakni jika ada orang yang dikaruniai ilmu banyak, ia dapat mengajarkan kepada orang lain dan juga yang bersangkutan mengamalkannya. Kedua, jika ada orang yang dianugerahi banyak harta, tetapi ia membelanjakannya di jalan yang benar hingga habis, Wallohu a`lamu bissawab.

bahaya dengki

Diantara penyakit yang merusak pahala puasa adalah dengki, dalam bahasa Arab disebut hasad. Dengki adalah perasaan tidak senang atas keberuntungan orang lain disertai usaha menghilangkan dan memindahkan keberuntungan itu kepada diri sendiri (an tatamanna zawala ni`mat al mahsud ilaika). Adapun menginginginkan hal yang serupa dengan yang diperoleh orang lain tidak termasuk dengki, karena al Qur’an bahkan menyuruh kita berlomba meraih kebajikan (fastabiq al khoirat).

Mengapa orang mendengki ? Dasar dari sifat dengki adalah adanya keinginan orang untuk menjadi orang nomor satu, menjadi orang yang terhebat, terkaya, terhormat dan ter-ter yang lain, yang berkonotasi rendah. Dalam bahasa agama, dunia dengan segala urusannya adalah sesuatu yang rendah. Dalam bahasa Arab, dun ya artinya dekat atau rendah atau hina. Jadi orang hanya mendengki manakala yang diperebutkan itu sesuatu yang rendah, hina dan berdimensi jangka pendek, ibarat `orang yang memasuki lorong sempit yang hanya muat satu orang. Ruang sempit itulah yang menyebabkan para peminat harus berdesakan dan saling menyikut. Selanjutnya jika ada satu orang yang telah berhasil memasuki lorong dan berhasil menduduki kursi duniawi yang diperebutkan, kursi presiden misalnya, maka orang yang belum berhasil memandang orang yang telah berhasil sebagai hambatan yang harus disingkirkan, sementara orang yang telah berhasil menduduki kursi itu memandang orang lain yang berminat sebagai ancaman yang juga harus dihambat.

Minggu, 19 September 2010

nikmat memakai jas hujan

Setiap kali melihat jas hujan, saya selalu teringat seorang teman yang bercerita tentang jas hujan, teman itu bertutur, Mas Agus, setiap kali turun hujan saya selalu meneteskan air mata. Dulu sewaktu saya kecil, saya selalu ingin mempunyai jas hujan. Waktu saya kelas Tiga SD hampir semua teman-teman telah memiliki jas hujan. mereka terlihat gagah dengan jas hujannya. semuanya berwarna cerah nan indah. tetapi ibu tak punya cukup uang untuk membelinya. Walaupun kesal dan kecewa, saya harus tetap menahan keinginan untuk memiliki jas hujan.

Sampai pada suatu hari kekecewaan itu memuncak, ketika saya pulang sekolah, hujan turun deras, saya kecewa dengan ibu sebab jika saya mempunyai jas hujan saya tidak perlu basah kuyup kena hujan dan bisa berlarian bersama teman-teman yang lain. Disaat teman-teman tertawa menikmati hujan, saya harus berjalan pulang dengan tubuh basah kuyup. Ditengah jalan saya bertemu dengan ibu. Ibu membawakan payung untuk saya, karena sudah terlanjur marah, tak terima dengan payung itu kemudian ngambek.

Ibu mendekap tubuh saya dengan memayungi agar tidak terlalu basah kuyup, hujan makin deras dan kami berjalan pulang sekalipun saya ngambek dan menolak untuk dipayungi. Sesampai di rumah ibu dengan membawa handuk, ada kehangatan yang segera menyergap, saya menjadi tenang. tak ada kata-kata yang keluar dari ibu selain menghangatkan saya dengan handuk, tangannya membersihkan setiap air hujan yang melekat ditubuh. Disekanya kepala saya agar nanti tidak sakit, masih dengan diam ibu menggantikan pakaian, setelah itu ibu membuatkan secangkir teh hangat dan menyodorkannya untuk saya, saya bergegas meminumnnya. Kehangatan terasa hadir didalam badan saya. Walaupun saya tidak pernah tahu, saya yakin ada kehangatan lain yang diberikan ibu pada saat itu.

Mas Agus, begitulah ibu tidak mampu membelikan saya jas hujan seperti yang saya harapkan namun payungnya telah membuat saya aman. Ibu tidak mampu membelikan saya jas hujan tetapi dekapan ibu membuat saya terhindar dari sakit. Ibu memang tidak bisa membelikan jas hujan namun usapan lembut ibu adalah segalanya bagi saya. Lingkaran tangannya ditubuh saya adalah dekapan yang paling indah. Secangkir teh manis telah menghangatkan tubuh saya. Ya, rintik hujan selalu membuat saya menangis karena teringat ibu. Terima kasih ibu.. yang tidak membelikan saya jas hujan karena apa yang telah diberika ibu selama ini telah membuat hidup saya bahagia.

Jas Hujan

Setiap kali melihat jas hujan, saya selalu teringat seorang teman yang bercerita tentang jas hujan, teman itu bertutur, Mas Agus, setiap kali turun hujan saya selalu meneteskan air mata. Dulu sewaktu saya kecil, saya selalu ingin mempunyai jas hujan. Waktu saya kelas Tiga SD hampir semua teman-teman telah memiliki jas hujan. mereka terlihat gagah dengan jas hujannya. semuanya berwarna cerah nan indah. tetapi ibu tak punya cukup uang untuk membelinya. Walaupun kesal dan kecewa, saya harus tetap menahan keinginan untuk memiliki jas hujan.

Sampai pada suatu hari kekecewaan itu memuncak, ketika saya pulang sekolah, hujan turun deras, saya kecewa dengan ibu sebab jika saya mempunyai jas hujan saya tidak perlu basah kuyup kena hujan dan bisa berlarian bersama teman-teman yang lain. Disaat teman-teman tertawa menikmati hujan, saya harus berjalan pulang dengan tubuh basah kuyup. Ditengah jalan saya bertemu dengan ibu. Ibu membawakan payung untuk saya, karena sudah terlanjur marah, tak terima dengan payung itu kemudian ngambek.

Jumat, 17 September 2010

sholat buat hati tenang

Sejenak mari kita bertanya pada diri sendiri, dimanakah kita meletakkan sholat dalam kehidupan kita? sejauh mana kita menjaganya? Sudahkah Melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan mengintegrasikan semua bacaan yang terkandung di dalam kehidupan sehari-hari?

Betapa pentingnya sholat hingga Allah mengingatkan di dalam al-Quran berkali-kali hal yang tidak boleh terlupakan. Allah dalam ayatNya selalu mengingatkan agar kita mendirikan sholat bukan mengerjakan sholat. Mendirikan bermakna ruh kesadaran terbangun di dalam diri kita. Ada kesungguhan dan keseriusan untuk melaksanakan. Bukan hanya melaksanakan dan menggugurkan kewajiban namun tertanam di dalam diri kita makna sholat yang sesungguhnya yaitu tiada diri dan ego kita, yang ada hanya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang yang berkehendak pada seluruh hidup kita. Itulah sebabnya mengapa kita

nikmatnya melaksanakan sholat

Pertanyaan, mengapa kita sholat? Apakah Allah membutuhkan untuk disembah oleh hambaNya? Pada dasarnya Allah tidak membutuhkan untuk disembah oleh hambaNya. Mau disembah atau tidak, Allah tetaplah Maha Besar. Kitalah sebagai hamba yang membutuhkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita membutuhkan waktu untuk mengadu segala permasalahan kita, kita meminta tolong dan memohon ampunan atas segala dosa yang kita lakukan sehingga amal yang dihisab pertama kali dalam hidup kita adalah sholat.

Amal yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah sholat. Bila sholat seseorang baik seluruh amalnya juga baik. Demikian juga sebaliknya jika seseorang sholatnya buruk maka akan buruk seluruh amalnya (HR. Thabrani).

Oleh sebab itu kita harus melaksanakan dengan sungguh-sungguh karena sholat mempengaruhi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sholat pula juga menjadi pilar terakhir dalam kepribadian kita. Sholat juga menjadi sumber cinta dan kasih sayang pada diri kita yang mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Sesungguhnya pilar-pilar Islam akan runtuh satu persatu. Ketika runtuh pilar pertama maka manusia akan berpegang teguh pada pilar berikutnya. Keruntuhan pilar Islam berawal dari diabaikannya hukum-hukum Islam dan pilar terakhir yang akan runtuh adalah sholat (HR. Ibnu Hibban).

enak juga ya bisa memaafkan sesama muslim

Kejadian itu menjadi buah bibir masyarakat. Banyak orang menjadi simpati kepada beliau. Menurut beliau memaafkan dan membina istri untuk bertaubat masih lebih baik daripada menceraikan istrinya dalam keadaan tidak memiliki harta dan tidak memiliki ketrampilan dalam mencari nafkah. Menceraikan dalam keadaan seperti itu malah akan menjerumuskan ke dalam lembah penderitaan yang lebih dalam. Beberapa tahun kemudian beliau meninggal. Rumahnya yang sempit tidak mampu menampung untuk pelayat yang hadir, terus berdatangan. Dari para muridya dan para santri mengaji, para orang tetangga yang mengagumi kesabaran beliau, mensholatkan secara bergantian di masjid.

Kata 'memaafkan' telah mampu merubah akhlak istrinya. Dimata Allah dan di mata masyarakat perbuatan beliau sungguh mulia. Banyaknya orang yang datang melayat dan mensholatkan beliau sekalipun beliau pertanda rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah terlimpahkan untuk beliau. 'Mas Agus, begitulah ayah saya dengan 'memaafkan' kesalahan ibu beratus orang datang, mendoakan kebaikan, rahmat dan ampunan untuk beliau,' ucap anak muda itu dengan air mata berlinang dipipinya mengenang sosok sang ayah. Itulah makna 'mulianya memaafkan'. Subhanallah.

nikmatnya memaafkan

Seorang laki-laki muda baru selesai takziyah di makam ayahnya mampir ke Rumah Amalia. Sore itu kami berbincang. Anak muda itu sangat mengagumi sosok ayahnya. Dalam penuturannya ayahnya adalah seorang guru Sekolah Dasar. 'Sama persis 'Umar bakri' seperti yang dinyanyikan Iwan Fals,' ucapnya. Selesai mengajar ayahnya menjadi guru mengaji anak-anak dan para ibu & bapak di masjid.

Kebaikan dan kemuliaan budi pekerti sang ayah inilah yang membuat dirinya dan orang-orang disekelilingnya menaruh hormat dan menganggap sebagai panutan. Tak heran semasa hidup beliau masjid di tempatnya begitu makmur, banyak orang yang sholat berjamaah di masjid itu. Semua orang hormat kepada beliau karena akhlaknya yang selalu mengucapkan salam kepada siapa saja anak-anak sampai orang dewasa. Kesholehan dan kesederhanaan beliau inilah yang sangat dikagumi oleh banyak orang.

Namun apa yang dilakukan oleh beliau bertolak belakang dengan istrinya bahwa kebahagiaan terletak pada materi berlimpah. Tuntutan istri tak membuatnya terpengaruh. Beliau tetap istiqomah menjalankan aktifitas keseharian dan ibadah, dirasakan dapat membuat hidupnya menjadi tenteram. Ternyata cobaan itu tidak hanya datang dari tuntutan istrinya. Pada suatu hari beliau kaget mendengar tetangganya ribut-ribut menyebut nama istrinya. Ternyata diketahui bahwa istrinya tertangkap basah berselingkuh dengan tetangganya. Dengan sigap beliau meredam emosi mengambil air wudhu dan beristighfar.